Sejarah Ketupat Qunut Atau Qunutan Tradisi Lama, Masih Diwariskan Hingga Saat Ini

Avatar photo

KABUPATEN TANGERANG – Bagi masyarakat Indonesia, makan ketupat merupakan tradisi yang tak boleh dilewatkan. Ketupat biasanya disajikan saat hari Raya Idul Fitri. Namun, penyajian ketupat juga bisa dilakukan di pertengahan bulan Ramadan, yang disebut dengan qunutan.

seperti halnya, yang dilakukan warga Kampung Sabrang Mulya Desa Daon Kecamatan Rajeg Kabupaten Tangerang, pada Selasa (26/03/2024), disibukan dengan membuat Kulit ketupat dengan mengunakan Daun Kelapa Muda atau juga Daun Pandan.

Tradisi tersebut dilakukan dengan cara membawa ketupat-ketupat matang ke masjid menjelang magrib dan dibagikan kepada jamaah secara acak. Hal ini dilakukan agar setiap orang dapat saling mencicipi masakan buatan tetangganya.

Sejarah Ketupat qunut atau qunutan adalah tradisi lama yang masih diwariskan hingga saat ini. Tidak ada yang tahu pasti kapan dimulainya. Ada yang menyebutkan bahwa tradisi itu telah berlangsung sejak zaman Kesultanan Demak saat memperluas pengaruhnya ke daerah barat 1524.

Sultan Cirebon, Sunan Gunung Jati, yang dibantu pasukan Demak menduduki pelabuhan Banten dan mendirikan Kesultanan Banten. Untuk meraih berkah di bulan Ramadan, ketupat-ketupat pun dibagikan.

Makna Tradisi Ketupat Qunut
Tradisi Ketupat Qunut merupakan wujud rasa syukur umat Islam karena berhasil menjalani separuh Ramadan. Tradisi ini masih berlangsung di hampir seluruh wilayah Pulau Jawa.

Selain itu, Ketupat Qunut juga menjadi momentum saling berbagi makanan dan berkumpul bersama di masjid atau mushola pada malam harinya. Saat salat Tarawih, ulama fiqih menganjurkan untuk membaca doa qunut yang diyakini untuk menolak bala.

Hal itu dikarenakan akan banyak sekali godaan yang dialami oleh umat Islam dalam berpuasa pada 15 hari terakhir Ramadan.

Baca juga:  Ribuan Jamaah hadiri Haul Tuan Guru Syekh Abdul Qodir Al Jaelani ke-64